Monday, August 30, 2010

Ketika Cinta Berbuah Luka

LUKA fisik barangkali mudah disembuhkan. Sebab terapinya lebih bisa diukur secara eksak dan mendekati tepat pula akurasinya. Tapi luka psikis? Tak jarang butuh tahap penyembuhan berbulan-bulan, bahkan tahunan. Apalagi luka karena cinta. Hmm…
Terus, bagaimana kita menyiasatinya?
Pertama, jangan menyimpannya sendiri agar kita tidak merasa sendiri dan menjadi manusia paling sedih di dunia. Ceritakan kepada kawan atau curhat kepada sahabat dan kerabat dekat.
Jika itu sulit dilakukan, baik karena malu atau khawatir ‘aib’ menyebar, minimal tulislah diary. Bisa diary berbentuk fisik berupa buku harian ataupun diary virtual semacam blog pribadi. Tentu agar isi diary maya terjaga privasinya, sebaiknya jangan buru-buru dipublikasikan. Setidaknya sementara waktu, biarkan diary online-nya berstatus “unpublished”, sehingga hanya bisa kita akses sendiri.
Secara psikologis, penyaluran kesuntukan hati melalui curhat atau menulis diary begini bermanfaat sebagai katarsis. Katarsis gunanya untuk mengurangi stres atau meredakan depresi alias tekanan batin.
Jika gangguan stres gara-gara putus cinta sudah terlalu serius atau bersifat psikosomatis, tak ada salahnya kita pilih curhat kepada ahlinya yang kompeten, yakni psikolog. Sebab jika dibiarkan, stres yang berat dapat mengganggu aktivitas belajar atau bekerja, membuat kita merasa “bad-mood” melulu, bahkan frustasi atau kehilangan gairah hidup. Frustasi kebablasan bisa pula mendorong kita nekat meloncat dari mal atau gedung bertingkat lho :-).
Makanya jangan sungkan silaturahmi ke psikolog. Jangan malu atau khawatir rahasia pribadi bakal bocor. Sebab para psikolog punya etika profesi untuk menjaga privasi kliennya.
Kedua, jangan menarik diri dari pergaulan atau interaksi sosial sebagaimana lazimnya. Bila kita suntuk lantaran patah hati dan kemudian menyembunyikan diri dari keramaian, justru bakal memperparah keadaan. Sebab sikap asosial hanya membuat kita makin merasa terkucil dari lingkungan sekitar. Akibatnya kita kian kesepian, merana, dan menjadi makhluk paling tak beruntung sejagat raya ini.
Sebaliknya cobalah untuk tetap beraktivitas seperti biasa. Katakan pada diri sendiri: pacar atau pujaan hati boleh saja pergi, namun dunia tak akan kiamat! Karena itu hidup harus berlangsung terus, the show must go on!
Justru pada saat patah hati begini, kita perlu membuka cakrawala baru. Tak ada salahnya mencoba menekuni hobi atau keterampilan baru yang sehat. Selain bisa mengisi waktu luang –yang biasanya kita habiskan dengan si dia– bergabung dalam klub hobi atau ikut kursus bisa membuka peluang bertemu dengan orang-orang yang tak mustahil lebih baik dan lebih menarik ketimbang mantan pacar kita. So, jika ada yang berminat mengambil mantan pacar kita, ikuti saja jejak Edy Tambayong, yang dengan esay-going-nya berdendang “…ambil saja bekas pacarku…” Hahaha.
Ketiga, mumpung kita baru saja terbahak, perlu mengingat pula rumus berikutnya: tertawakan diri sendiri! Menertawakan orang lain berisiko menimbulkan salah paham atau cekcok lantaran bisa dianggap meremehkan atau menghina.
Akan tetapi, kata para psikolog, orang yang bisa menertawakan diri sendiri justru mengindikasikan punya kepribadian yang sehat. Sebab orang yang sanggup melakukannya dijamin tak mudah ditimpa stres atau depresi. Bagaimana mau stres, ketika menghadapi kekonyolan atau kesialan pribadi, mereka justru ketawa-ketiwi sendiri. Tapi jangan keterusan lho ya. Bisa-bisa malah dikira orgil (orang gila) atau gokil hehe.
Jika ada teman yang bertanya, “Hei gimana kabar pacarmu?” Jawab saja, “Syukurlah, Tuhan telah menyelamatkannya dari diri saya. Ternyata dia lebih cocok untuk orang lain.” Hahaha.
Keempat, nikmati kesendirianmu. Coba ingat-ingat, tidak selalu punya pacar itu nikmat. Apalagi jika kekasih pujaan itu posesifnya minta ampun. Tiap hari kita mesti bikin laporan atau semacam jurnal yang berisi apa saja kegiatan kita pas tidak bersamanya. Belum lagi kita harus selalu menjawab rentetan sms-nya yang selalu memberondong seperti senapan mesin. Sudah begitu, kita harus selalu meminta izinnya ketika akan mengikuti kegiatan bersama teman-teman kita. Hmm, jadi ribet banget deh sepertinya hidup kita.
Nah, ketika kita menyadari bahwa pacaran dengan si dia ibarat terpenjara dalam sangkar emas sang kekasih, maka kehilangan si dia malah membuat kita merasa merdeka. Karena baru saja merdeka, mungkin kita justru perlu membacakan teks proklamasi untuk diri kita sendiri:
Proklamasi
Kami bangsa jomblo dengan ini menyatakan kejombloan kami. Hal-hal mengenai pacar yang posesif, suka mengatur, otoriter, diktator, atau mau menang sendiri, dan semacamnya, akan diselesaikan dengan saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.
Atau, pinjamlah ungkapan Bung Karno yang sedikit diplesetkan, lalu pekikkanlah dengan dahsyat: “Go to hell with your love!”
Kelima, ingat-ingat segala watak jelek atau serba kekurangan si dia. Nggak punya kekurangan? Ah tidak mungkin, tidak mungkin… hehehe.
Yang namanya manusia, kata para ustad atau agamawan, adalah tempatnya khilaf dan kekurangan. Manusia adalah makhluk yang bergelimang dosa, juga dusta. Hanya para Nabi saja yang betul-betul berwatak asli jujur dan “ma’shum” alias terjaga dari dosa. Maka, daripada suntuk menangisi kehilangan si dia, langsung saja bikin sederet daftar kejelekannya.
Jadi tak ada larangannya mengenang si dia, tapi (setidaknya sementara waktu) batasi sisi negatifnya saja. Ibarat panas setahun hapus oleh hujan sehari, kebaikan-kebaikannya pun wajib batal demi hukum lantaran ia telah mencampakkan kita dengan semena-mena.
Bayangkan: gadis atau jejaka sebaik dirimu sudah dipersamakan dengan penyakit campak! Lho kok? Iya kan dia sudah mencampakkanmu. Huh, bukankah itu pertanda dia tidak memiliki empati atau minimal rasa perikepacaran kepada kita?
Karena itu segera nyanyikan saja lagunya Tofu: sudah lupakan saja…semua kebaikan si dia hahaha.
Keenam, berpikir positif kepada diri sendiri alias PD aja lagi. Selama ini kita secara moral dibiasakan untuk selalu berpikir positif kepada orang lain. Nah, ketika hati lagi drop begini, boleh dong sesekali ber-husnudzon atau positive-thinking bagi diri sendiri.
Jadi, jangan merasa jelek hanya gara-gara ditinggalkan pacar. Katakan pada diri sendiri, biarpun ditinggal pacar, kita tetap saja punya berbagai kelebihan. Hanya saja pacar kita yang –mungkin karena DDR (daya dong rendah) atau keterbatasan intelektualitasnya hahaha– gagal mengapresiasi kelebihan-kelebihan kita.
Nah, inilah yang lazim disebut tidak jodoh. Maksudnya, jodoh itu cenderung mirip dengan kualifikasi atau “track record” diri kita sendiri. Dalam bahasa agamanya, jodoh itu sekufu: lelaki yang baik untuk wanita baik-baik dan sebaliknya, wanita yang buruk untuk lelaki yang buruk. Begitulah sunatullah (natural law)-nya seperti tercantum dalam Al Quran surat ar-Rum 21 dan an-Nur 24.
So, kalau kita merasa sudah seoptimal mungkin menjadi pacar yang baik –setia, pengertian, sabar, perhatian–, eh si dia kok masih mengkhianati juga, berarti konklusinya si dia besar kemungkinan bukan orang baik-baik. Dengan kata lain, memang bukan jatah atau jodoh kita.
Gimana mau jodoh, lha wong nggak “match” gitu: anda baik dan dia tidak baik. Jadi simpel kan? Pokoknya dalam situasi terpuruk begini tak ada salahnya deh menyematkan kebaikan di dada sendiri hehe. Asal bukan diniatkan untuk riya atau pamer atau ujub alias sok pintar atau merasa paling bisa lho ya…Jadi katakan bahwa si dia memang “low-taste” banget, sehingga gagal mengapresiasi kelebihan-kelebihan kita, termasuk kelebihan berat badan kita yang selalu over weight hihihi.
Ketujuh, yakinlah, selalu ada hikmah di balik musibah atau istilah orang Barat: blessing in disguise. Pas kita diputus pacar rasanya memang seperti disambar geledek. Terlebih jika kita sangat mencintai si dia dan kita diputuskan sepihak tanpa alasan yang masuk akal. Tentu kita merasa dikhianati, dizalimi, atau diperlakukan tidak adil.
Tapi percayalah, apabila kita bisa berprasangka baik kepada Tuhan, insya Allah apa yang awalnya kita persepsikan sebagai musibah ini justru membuka peluang-peluang baru yang lebih menjanjikan. Kadang musibah juga menjadi sarana Allah untuk mentarbiyah atau mendidik kita agar lebih tegar, dewasa, bertanggung jawab, plus lebih relijius.
Akhir kata, saya menuliskan ini semua bukan karena saya seorang yang berpendidikan psikologi atau psikiater. Aslinya saya hanya peminat masalah-masalah psikologi dan ingin sekadar berbagi. Dan kebetulan saya juga pernah menjadi seorang praktisi: dalam arti berpengalaman ditolak, dibikin patah hati, dan terpaksa menertawakan diri sendiri hahaha… [] Jakarta, Juni-Juli 2010.

http://muda.kompasiana.com/2010/07/14/ketika-cinta-berbuah-luka/

No comments:

Post a Comment

komennya yang bagus-bagus yaa ^_^